CINTA SEBAGAI OBAT
Ibnu Qayyim rahimahullâh pernah berkata dalam kitab al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa'ala ‘an ad-Dawâ' asy-Syâfî (Jawaban Konkrit Bagi Mereka yang Menanyakan Obat Manjur)
“Kasih sayang adalah penyebab hati dan ruh menjadi hidup
terpelihara. Hati tidak tenang dan merasa seperti tak hidup bila tanpa cinta. Seandainya hati tanpa cinta, sakitnya
lebih terasa daripada mata terasa sakit ketika tidak bisa lagi melihat
cahaya, telinga ketika tidak bisa lagi mendengar, hidung ketika tidak
bisa lagi mencium, lisan ketika tidak mampu lagi berbicara. Bahkan, hati
pun bisa menjadi rusak apabila hampa dari kasih sayang yang sudah
merupakan fitrah dalam jiwa manusia. Ia adalah sebuah karunia yang
diberikan Sang Pencipta. Oleh karena itu, rusaknya lebih parah daripada
kerusakan tubuh manusia yang diisi dengan ruh, dan ini tidak mungkin
bisa dikatagorikan menjadi sesuatu yang pasti kecuali orang yang
memiliki jiwa yang selalu hidup.”
Ibnu Qayyim rahimahullâh berkata dalam kitab ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat):
“Mencintai wanita itu terbagi tiga, yaitu:
Bagian pertama adalah pendekatan dan bagian kedua ketaatan. Yang
termasuk kedalam klasifkasi ini seperti, mencintai seorang istri.
Bentuk cinta seperti ini teramat sangat bermanfaat karena bagaimanapun ia
merupakan salah satu syariat yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam
melaksanakan pernikahan. Karena, pernikahan dapat menghindarkan
pandangan mata dan hati dari perbuatan semu yang dilarang dalam Islam. Maka
dari itulah Allah SWT, Rasul-Nya serta seluruh manusia
menjunjung tinggi martabat pecinta seperti ini.
Sedangkan bagian ketiga adalah “cinta mubah” atau cinta yang
dibolehkan, seperti misalnya cinta seorang laki-laki ketika disebutkan kepadanya seorang wanita rupawan nan jelita, atau ketika seorang laki-laki melihat
wanita secara kebetulan kemudian hatinya terpaut kepada wanita tersebut,
dengan catatan tidak ada unsur maksiat dan syahwat dalam jatuh cinta itu. Cinta
seperti ini pelakunya tidak mendapatkan dosa dan siksa, namun lebih baik
menghindar dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang lebih
bermanfaat dan positif serta wajib baginya merahasiakan hal itu.
Apabila menjaga dan sabar terhadap suatu hal yang bersifat negatif,
niscaya Allah SWT akan memberikan ganjaran pahala kepadanya dan
menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”
MISI CINTA UNTUK MENEMUKAN CINTA SEJATI
Sudah menjadi fitrah manusia memiliki rasa cinta. Mencintai harta,
wanita dan kedudukan. Namun kita juga harus tahu kepada siapa cinta kita
itu ditujukan dan cinta yang mana yang harus diprioritaskan. Ibnu Qayyim
Al Jauziah membagi dimensi cinta menjadi enam tingkatan.
- Tatayyun
Cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah SWT. Allah yang menciptakan manusia dan segala isinya, serta memberikan
segala yang manusia butuhkan untuk hidup di dunia, berhak
mendapatkan cinta tertinggi melebihi apa pun yang ada di dunia.
2. Isyk
2. Isyk
Rasa cinta ini merupakan tingkat ke dua setelah mencintai Allah,
yaitu mencintai yang hanya ditujukan kepada kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW.
Mencintai Nabi Muhammad SAW berarti mengamalkan segala sesuatu yang dicontohkan
oleh beliau dan menghindari segala sesuatu yang tidak berasal darinya.
3. Syauq
Merupakan tingkatan cinta antar sesama muslim yang memiliki ikatan
keluarga. Setelah mencintai Allah dan Rasul-Nya, selanjutnya
adalah mencintai keluarga kita, orang tua, adik, kakak, kerabat dan
saudara kita. Keluarga berhak mendapatkan cinta yang melebihi orang
lain.
4. Shababah
Yang merupakan rasa cinta antar sesama muslim karena satu aqidah. Sesama
muslim itu bersaudara. Di belahan dunia mana pun, kita yang beragama
Islam adalah saudara. Muslim di Afrika, Autralia, Palestina, Turki,
Jepang, adalah saudara kita. Di mana pun muslim berpijak, apabila mereka
tertindas, sengsara, terancam, kita sebagai saudara pastilah merasakan
sedih dan pedih yang mereka rasa. Dan hati kita tergerak untuk menolong
dan mengurangi beban mereka semampu yang kita bisa. Yang paling penting
yaitu doa-doa kita kepada saudara-saudara muslim di belahan bumi mana
pun.
5. 'Ithf
Tingkatan cinta yang timbul dari sisi kemanusiaan. Misalnya,
menolong orang yang terkena musibah atau bencana, maka akan timbul rasa
cinta antar sesama manusia. Termasuk di dalam tingkatan ini adalah
mencintai lawan jenis. Seorang lelaki yang mencintai seorang wanita, begitu pun
sebaliknya.
6. Intifa
Cinta kepada harta benda yang dimiliki. Allah memberikan kita rasa
cinta terhadap harta benda, tapi janganlah kecintaan yang satu ini
melebih cinta kita kepada Allah dan Rasulnya.
| |||
Komentar
Posting Komentar